Hari ini, Ibu, kau bercerita pada kami di dalam ruang kelas ini. Kata-katamu
begitu sederhana, tak terdengar seperti bahasa orang-orang jenius, tak terdengar
pula sebagai bahasa para penyair. Tapi lewat ceritamu itu, entah kenapa, hatiku
bergetar. Ini bukan ilusi, Bu, ini bukan mengada-ada. Sebab ceritamu pun bukan
ilusi, bukan mengada-ada. Ibu, kau bercerita dengan sesekali menatap kami,
anak-anakmu, satu per satu di dalam ruang kelas ini. Namun, entah apakah ini
cuma perasaanku atau memang demikian adanya—aku merasa kau begitu jauh
menatapku. Kau menatapku dengan tatapan yang dalam, jauh dan lama. Entah ini
cuma perasaanku atau memang demikian adanya, tapi aku betul-betul merasakannya.
Allah sungguh Maha Besar, sungguh Maha Kuasa. Dengan mudahnya Ia ciptakan manusia,
dan dengan mudahnya pula Ia perintahkan Izrail untuk mencabut nyawanya. Ia
berikan semua yang manusia butuhkan—jasmani, ruhani, akal pikiran, serta hati. Jangankan
untuk sesuatu yang hamba-Nya pinta, untuk yang tidak diminta pun Ia berikan. Mudah
bagi-Nya mengabulkan apa yang manusia itu inginkan, mudah pula bagi-Nya mencabut
nikmat tersebut dari hamba-Nya.