Saat tengah sendirian di dalam
perpustakaan, saya teringat pada sebuah cerita yang pernah saya dengar ketika
saya masih kecil. Cerita itu berkisah tentang dua orang di tengah musim salju
yang sangat dingin. Mereka berjalan diantara hujan salju hingga akhirnya mereka
melihat dua buah kursi kosong, satu terbuat dari besi sementara yang lain
terbuat dari kayu. Segera saja salah satu diantara keduanya berlari lalu duduk
di atas kursi besi yang bagus itu. Sementara itu, orang yang satu berjalan santai
lalu duduk di atas kursi kayu. Sampai detik ini kita bisa melihat bahwa orang yang
duduk di kursi besi lebih unggul dibanding orang yang duduk di kursi kayu.
Sekian menit pun berlalu, orang yang duduk di kursi besi merasakan kedinginan
hingga tubuhnya pun bergetar hebat. Berbeda dari temannya, orang yang duduk di
atas kursi kayu justru tenang meskipun ia juga merasakan kedinginan.
Selasa, 01 Juli 2014
Sabtu, 17 Mei 2014
Rimba, Yang Pertama
Aku menamainya Rimba. Dia menyebutku jingga. Tak tahu apa
artinya. Hanya saja, dia pernah bilang, kalau senja itu indah. Bukankah senja
itu jingga? Jadi?
Aku tak tahu harus mengartikannya ke dalam bahasa apa, ke
dalam ungkapan apa. Sebab, jingga itu tanda. Tanda bahwa matahari segera pergi.
Tanda bahwa cahaya akan segera berganti, dan malam akan segera lahir. Aku tahu
dia tak suka malam.
Aku menamainya Rimba. Sebab, dia suka bermain-main di pantai
entah mengerjakan apa. Sebab, dia sering berburu dan baru pulang saat hari
sudah gelap. Dia bisa dan pada dasarnya suka akan kesendirian. Tenang, katanya.
Maka bersamanya aku berubah menjadi orang yang banyak mulut. Bukan lantaran aku
yang begitu ramai, tapi karena dia yang demikian sepi.
Kamis, 01 Mei 2014
Gara-Gara Writer’s Block
Well, first of all saya mau minta maaf pada (terutama) diri
sendiri yang belum mengetik apapun tahun ini. Postingan saya pada bulan
Februari lalu pun sebetulnya tulisan entah zaman kapan, yang “nyempil” diantara
sekian draft di laptop (kebanyakan belum jadi). Tak menulis sampai akhir April,
membuat saya tiba-tiba speechless. Kehilangan kata-kata. Tumpul, tak bisa “bicara”.
Dan puncaknya adalah saat mendapat tugas menulis di mata kuliah Bahasa
Indonesia.
Dan....
Langganan:
Postingan (Atom)