Tampilkan postingan dengan label note. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label note. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Agustus 2017

Catatan Kontributor Hipwee yang Lama Tak Berkontribusi (Bagian 1)

Siang ini, Facebook mengingatkan saya bahwa setahun yang lalu artikel saya kali pertama dimuat di Hipwee Community. Ketika itu waktu tunggu moderasi hingga terbit tidak begitu lama, hanya sekitar tiga hari (kalau tidak salah). Dan artikel pertama saya itu berjudul 7 Nasehat Cinta dari Dee Lestari,Cocok Buatmu yang Masih Dilema.

Membuat artikel berbentuk listicle yang sekarang arak di media online itu bagi saya gampang-gampang susah. Gampang nulisnya, susah nunggunya. Hehe. Artikel terakhir saya di Hipwee terbit setelah dua minggu menunggu. Katanya sih Hipwee lagi pindahan. Semoga sekarang masa tunggunya tidak begitu lama ya.

Ada beberapa hal yang mau saya share di sini, soal pengalaman saya menulis di Hipwee. Perlu diketahui, Hipwee adalah salah satu portal online bagi anak muda yang berisi tips, kuis, hingga narasi dan seringkali kadang curhat. Hehe.

Pembaca Hipwee sebagian besar pelajar dan mahasiswa. Saya sendiri tahu Hipwee sejak awal kuliah. Hipwee pun mendadak jadi bacaan ringan yang tak boleh terlewat. Artikel-artikel di Hipwee “anak muda banget”, dibawakan dengan gaya tulisan yang ringan dan bikin kecanduan. Kayaknya nggak pernah saya nengokin Hipwee cuma buat baca 1 artikel. Seringkali 3 artikel atau lebih habis saya baca setiap kali ngeklik Hipwee.

Yang waktu itu menarik bagi saya adalah banyaknya jumlah kontributor Hipwee dan angkanya terus meningkat. Dalam waktu singkat, Hipwee jadi ramai dan bukan lagi lapak milik sekumpulan orang. Hipwee sudah jadi milik anak muda, baik yang suka nulis ataupun cuma mampir baca.

To be honest, saya sudah lebih dulu kepincut sama Nyunyu. Saya masih ingat, dulu Nyunyu akan mengupload artikel baru tiap pukul 8 malam. Nyunyu ini asyik banget buat dibaca. Ringan, lucu, pokoknya bikin ketawa-ketawa sendirilah kalau baca Nyunyu. Apalagi nama-nama beken di belakangnya: Raditya Dika, Bena Kribo, Arief Muhammad, Nilam Suri, dll. Pas banget waktu itu lagi avid mainan twitter dan bisa dibilang mereka itu artis-artisnya Twitter.

Kenapa saya pindah hati dari Nyunyu ke Hipwee?

Jawabannya adalah karena Hipwee membuka pintu selebar-lebarnya bagi para kontributor yang bisa siapa saja. Lho, memangnya Nyunyu nggak? Nggak seramai itu. Jujur, saya nggak tahu orang-orang dalam-nya Hipwee itu siapa aja, karena saya nyaris nggak bisa bedain mana redaksi mana kontributor. Di Nyunyu, dinding itu jelas terlihat. Tiap kali klik, yang muncul lagi-lagi artikelnya si @poconggg atau Bena. Kadang punya Nilam Suri. Sekitar beberapa bulan hingga setahun setelah itu barulah nama lain ikut naik, contohnya Adhie Fahmi. Yang lumayan ramai adalah kolom komentarnya, sebab beberapa member sering komen dan nggak jarang ditanggapi juga sama penulis artikel. Kolom komentar ini nih yang juga nggak kalah gokil. Apalagi kalau udah bahas K-wave atau Raisa. Atau jomblo.

Terus di Hipwee nulis apa aja, Rin?

Artikel di Hipwee dibagi menjadi beberapa model. Ada narasi, listicle, quiz, dan opini. Saya sendiri sudah menulis 5 artikel yang terdiri atas 1 narasi dan 4 listicle. Saya suka nulis listicle karena saya pengin share beberapa hal dalam satu topik yang akan lebih enak dibaca dalam format listicle. Kali pertama login dan nulis, saya masih bingung harus pakai format tulisan yang manaAkhirnya saya nulis dalam format narasi. Beberapa hari kemudian, ada e-mail dari pihak Hipwee yang mengabarkan kalau artikel saya lebih baik ditulis dalam format listicle. Oke, ganti format.

Menulis di Hipwee cukup mudah dan cepat sebab kita sudah dihadapkan dengan form yang tinggal kita isi sesuai instruksi. Buat saya, mengisi kolom-kolom inilah yang PR banget, sebab kita harus sudah menyiapkan artikel beserta gambar dan sumber gambar-gambar yang akan kita gunakan.

Yang menarik adalah judul artikel. Tahu ‘kan model-model judul artikel online seperti apa. Tak jarang, judul yang kita ajukan akan direvisi; ditambah atau dikurangi. Contoh judul artikel saya yang ditambah adalah artikel 7 Nasehat Cinta dari Dee Lestari, Cocok Buatmuyang Masih Dilema. Itu bukan judul yang saya ajukan sebenarnya. Judul aslinya adalah 7 Nasehat Cinta dari Dee Lestari. Tanpa koma atau tambahan beberapa kata di belakangnya.

Lain lagi dengan artikel berjudul 5 Pidato Pemimpin Dunia yang Inspiratif, Mengharukan, Hingga Mengubah Dunia! Judul aslinya adalah 5 Pidato Pemimpin Dunia yang Harus Kamu Dengarkan—Inspiratif, Mengharukan, Hingga Mengubah Dunia! Kali ini, judul dipotong serta beberapa kata dihilangkan.

Artikel pertama saya terbilang cepat menarik banyak pembaca. Hari pertama sudah mendapat 123 share, dan di minggu pertama ada 1738 share. Ya, lumayanlah. Artikel percintaan seperti ini memang salah satu yang paling sering dicari oleh pembaca Hipwee. Ya, namanya juga anak muda...
Setelah artikel pertama dimuat, saya mencoba bereksplorasi ke topik-topik lainnya. Artikel kedua saya mengangkat tema Harry Potter (soalnya saya Potterhead, hehe) dan saya mengangkat heroine dalam film-film Harry Potter. Sebelumnya saya sempat search apakah di Hipwee sudah ada artikel dengan topik serupa atau belum. Ternyata artikel bertemakan Harry Potter belum begitu banyak. Akhirnya saya upload artikel kedua saya itu. Eh, bukan ding. Artikel pertama.
Ya, artikel berjudul Hai Kamu Cewek-Cewek, Belajar Jadi Cewek Tangguh Lewat Karakter Wanita di FilmHarryPotter Yuk! adalah artikel pertama yang saya tulis di Hipwee, namun tak jadi dimuat karena format yang keliru (yang sudah saya ceritakan di atas). Saya simpan dulu, baru saya keluarkan ketika artikel lainnya benar-benar dimuat dan mendapat respon yang cukup baik.

Oh ya, selain judul, yang seringkali (lagi-lagi menurut pengalaman saya) mendapat revisi dari pihak Hipwee adalah gambar utama. Dari lima artikel saya saja, tiga atau empat diantaranya mengalami pergantian gambar utama. Saya tidak tahu pasti kriteria gambar utama yang baik menurut Hipwee itu seperti apa, tapi saya menilai relevansi antara artikel dan gambar menjadi salah satu pertimbangan. Oh ya, jika gambar utama diganti, artinya digantikan oleh gambar lain dari pihak Hipwee. Tak ada anjuran dari Hipwee untuk mengganti (tidak seperti kekeliruan dalam format seperti pengalaman saya), dan tak ada pemberitahuan sebelumnya.

Beberapa bulan yang lalu, Hipwee pindah kantor. Entah dari mana ke mana. Yang jelas, waktu itu banyak kontributor yang bertanya kenapa artikelnya belum dimuat. Ada yang sudah 1 minggu, 2 minggu, bahkan 1 bulan menunggu. Saya termasuk kontributor yang bertanya langsung pada salah satu admin Hipwee. Syukur, beberapa hari berikutnya artikel sudah dimuat.

Oh ya, Hipwee sekarang punya editor baru (well, sekarang nggak baru-baru amat, sih). Kalau awal-awal saya nulis di Hipwee artikel akan diedit tampilan dan mechanics-nya saja, kini konten artikel juga diedit. Artikel saya yang telah melewati proses editing ini adalah Untuk Adik Kecilku, Pinjami Sebelah Sayapmu Agar Kita Bisa Terbang Bersama.

Tak hanya menulis artikel yang berhubungan dengan hubungan atau percintaan remaja, saya juga menulis artikel dengan tema yang sedikit lebih berat, yaitu sejarah berjudul 5 Pidato Pemimpin Dunia yang Inspiratif, Mengharukan, Hingga Mengubah Dunia!

Ekplorasi saya melebar ke topik yang lebih pribadi, yakni curhat. Karena berupa curahan hati, saya menuliskannya dalam sebuah narasi. Tak terlalu panjang, cukup untuk melegakan beban pikiran saja.

Dari kelima artikel yang saya tulis di Hipwee, sedikit-banyak saya tahu selera umum pembaca Hipwee. Bagian kedua akan mengupas lebih jauh artikel seperti apa yang paling banyak disukai pembaca. Stay tuned!

Senin, 14 November 2016

Warna Langit

Langitku biru. Langitku cerah. Manusia mengaguminya.
Langit biru yang cerah, ah, manusia mana yang tak menyukainya. Tukang es keliling, tukang bakso, pedagang kaki lima, anak sekolahan, pengantar surat, loper koran, penyapu jalan, tukang parkir… semua menyayangiku. Pengusaha kerupuk, petani garam, dan ibu-ibu yang punya anak bayi juga tak luput menjadi pengagumku. Hidup nyaman sekali dari atas sini. Terlebih jika matahari tak terlalu niat menyalakan sinarnya ke muka bumi. Hari sempurna ialah saat matahari bersantai di langitku, burung-burung terbang di antara awanku, pohon dan bunga tumbuh subur di bawahku, orang-orang tertawa dan dapat uang banyak.
Di sebelah langitku, ada langitmu.

Selasa, 01 Juli 2014

Besi dan Kayu

Saat tengah sendirian di dalam perpustakaan, saya teringat pada sebuah cerita yang pernah saya dengar ketika saya masih kecil. Cerita itu berkisah tentang dua orang di tengah musim salju yang sangat dingin. Mereka berjalan diantara hujan salju hingga akhirnya mereka melihat dua buah kursi kosong, satu terbuat dari besi sementara yang lain terbuat dari kayu. Segera saja salah satu diantara keduanya berlari lalu duduk di atas kursi besi yang bagus itu. Sementara itu, orang yang satu berjalan santai lalu duduk di atas kursi kayu. Sampai detik ini kita bisa melihat bahwa orang yang duduk di kursi besi lebih unggul dibanding orang yang duduk di kursi kayu. Sekian menit pun berlalu, orang yang duduk di kursi besi merasakan kedinginan hingga tubuhnya pun bergetar hebat. Berbeda dari temannya, orang yang duduk di atas kursi kayu justru tenang meskipun ia juga merasakan kedinginan.

Kamis, 01 Mei 2014

Gara-Gara Writer’s Block



Well, first of all saya mau minta maaf pada (terutama) diri sendiri yang belum mengetik apapun tahun ini. Postingan saya pada bulan Februari lalu pun sebetulnya tulisan entah zaman kapan, yang “nyempil” diantara sekian draft di laptop (kebanyakan belum jadi). Tak menulis sampai akhir April, membuat saya tiba-tiba speechless. Kehilangan kata-kata. Tumpul, tak bisa “bicara”. Dan puncaknya adalah saat mendapat tugas menulis di mata kuliah Bahasa Indonesia.
Dan....

Minggu, 27 Januari 2013

Menciptakan Suasana KBM yang Menyenangkan dan Kondusif


Siswa seringkali dipusingkan oleh materi pelajaran yang sulit, rumit, membingungkan, serta membosankan. Suasana kegiatan belajar mengajar atau KBM yang tak kondusif ditambah dengan tenaga pengajar atau guru yang tak punya cukup cara dalam hal metode penyampaian bahan ajar menjadi salah satu sebabnya. Banyak pelajar menilai, metode penyampaian yang diterapkan oleh beberapa orang guru kurang pas dan membosankan sehingga mereka menjadi kurang tertarik serta memahami apa yang disampaikan oleh guru. Kelihatannya hal ini sepele, mengingat tidak mungkin memenuhi apa yang diinginkan oleh siswa yang sedemikian banyak dalam satu kelas dengan yang dikehendaki oleh guru. Namun, hal ini menjadi sangat penting manakala siswa menjadi tak punya semangat belajar lalu gagal dalam ujian. Perlu adanya diskusi panjang agar menemukan jalan tengah bagi persoalan ini, agar tercipta suasana kelas yang menyenangkan bagi guru dan siswa serta kondusif dalam penyampaian materi pelajaran.
Suasana belajar yang menyenangkan akan membuat siswa terpacu untuk belajar, mendorong timbulnya rasa ingin tahu yang besar dalam diri siswa, termasuk mengupayakan hubungan yang aktif antara siswa dengan guru sehingga hasil yang akan didapat bisa maksimal. Rasa ingin tahu yang besar mendorong siswa untuk terus menggali hal-hal yang ia kehendaki itu sehingga wawasannya pun berkembang. Tak hanya itu, suasana belajar yang menyenangkan penting untuk menjaga stabilnya perkembangan emosional mereka termasuk membantu mengembangkan relationship dan melatih kerjasama antar siswa. Sebab, kegiatan belajar mengajar tak hanya soal siswa dan gurunya, tetapi juga siswa dengan temannya.
Sebaliknya, suasana belajar yang membosankan akan mempengaruhi perkembangan mental siswa, menjadi keras dan pemarah karena apa yang diinginkannya di sekolah tidak bisa diwujudkan oleh gurunya, padahal hal itu baik. Mereka juga menjadi sulit berkonsentrasi pada pelajaran dan gagal membina hubungan yang baik dengan teman satu kelasnya. Selain itu, akibat kurangnya pemahaman siswa terhadap apa yang dipelajarinya bisa membuat ia gagal dalam ujian. Tentu, hal ini tak mau dialami oleh semua pihak, bukan? Jadi, mari kita ciptakan suasana belajar mengajar yang menyenangkan serta kondusif. Caranya?

Minggu, 29 Juli 2012

Mawar Kepada Hujan yang Menjadikannya Mekar


Aku tak pernah menceritakan ini pada siapa pun, yaitu tentang apa yang dikatakan mawar kepada hujan yang menjadikannya mekar. Kala langit senja mulai menenggelamkan matahari yang (sayang sekali) begitu redup, dan hujan mulai turun dengan beriringan lewat awan yang kelabu.
Nun di bawah sana, di antara bunga-bunga berwarna-warni yang tumbuh di sebuah taman yang indah, sekuntum bunga memekarkan pandangannya ke atas, hendak mendengar suara langit yang darinya muncul berita akan datangnya hujan. Ia lalu melempar pandangannya ke bawah, lalu ke arah sekelilingnya. Adalah bunga mawar putih yang terkenal akan kecantikan dan keelokan rupanya. Ketika hujan mulai turun dan membasahi mahkotanya, ia berteriak.
“Aku benci padamu, Hujan!”.
Hujan yang kebingungan lantas berkata, “Mengapa kau berkata seperti itu, Mawar? Apa salahku sehingga kau berkata demikian? Bukankah kau amat menyukaiku karena aku memberikanmu air (kehidupan) ?”.

Give Me That Miracle: Life’s Full of Miracle (Terima kasih untuk Ibu yang telah membagi cerita ini)


Hari ini, Ibu, kau bercerita pada kami di dalam ruang kelas ini. Kata-katamu begitu sederhana, tak terdengar seperti bahasa orang-orang jenius, tak terdengar pula sebagai bahasa para penyair. Tapi lewat ceritamu itu, entah kenapa, hatiku bergetar. Ini bukan ilusi, Bu, ini bukan mengada-ada. Sebab ceritamu pun bukan ilusi, bukan mengada-ada. Ibu, kau bercerita dengan sesekali menatap kami, anak-anakmu, satu per satu di dalam ruang kelas ini. Namun, entah apakah ini cuma perasaanku atau memang demikian adanya—aku merasa kau begitu jauh menatapku. Kau menatapku dengan tatapan yang dalam, jauh dan lama. Entah ini cuma perasaanku atau memang demikian adanya, tapi aku betul-betul merasakannya.

Allah sungguh Maha Besar, sungguh Maha Kuasa. Dengan mudahnya Ia ciptakan manusia, dan dengan mudahnya pula Ia perintahkan Izrail untuk mencabut nyawanya. Ia berikan semua yang manusia butuhkan—jasmani, ruhani, akal pikiran, serta hati. Jangankan untuk sesuatu yang hamba-Nya pinta, untuk yang tidak diminta pun Ia berikan. Mudah bagi-Nya mengabulkan apa yang manusia itu inginkan, mudah pula bagi-Nya mencabut nikmat tersebut dari hamba-Nya.

Rabu, 20 Juni 2012

@Gunungpati Now

Aku lagi ada di salah satu warnet di Gunungpati saat ngeposting ini. Besok, tanggal 21 Juni rencananya (bukan sekedar "rencana" sebenarnya) aku akan lapor diri sebagai maba di salah satu universitas di sini (pasti tahulah, universitas apa yang aku maksud). Sebenernya, di pengumuman rektor dijelaskan bahwa lapor diri dilaksanakan mulai pukul 08.00 sampai 16.00. Akan tetapi,berdasarkan saran dari beberapa teman yang sama-sama maba, kalau bisa berangkatnya tuh yang pagi. Ketika aku membuka grup FB, bahkan ada yang berangkat jam setengah enam!

Whatever-lah,we'll see....

Jumat, 20 April 2012

15 April 2012

Tuhan, biarkan aku menari
Sampai lepas esok hari
Karena jika aku mati
Aku tak akan kembali

Tuhan, izinkan aku bernyanyi
Mengejar mimpi tinggalkan sunyi
Sebab nanti bila senjaku pergi
Tak mungkin ia ‘kan terbit lagi

Tuhan, biarkan dulu mimpiku usai
Biar dulu bahagia kugapai
Biar damai dapat kucapai
Saat tiba waktuku sampai.

Minggu, 12 Februari 2012

Under The Rain (2)

Kebahagiaan bukanlah saat kau merasa aman. Kebahagiaan bukanlah saat kau merasa tenang. Kebahagiaan bukanlah saat kau punya jabatan. Kebahagiaan bukanlah saat kau punya banyak uang. Kebahagiaan adalah saat kau mensyukuri apa yang telah Allah swt. berikan kepadamu.

Aku tidak merasa aman sepenuhnya. Aku tidak merasa tenang seluruhnya. Aku tidak punya jabatan, apalagi uang yang banyak. Akan tetapi aku merasa bahagia. Aku begitu bahagia atas apa yang telah Allah anugerahkan padaku.

Aku bahagia dengan semua yang telah terjadi. Aku bahagia pernah menangis, aku bahagia pernah kecewa. Aku bahagia pernah merasakan kehilangan, sebab dengan cara itulah aku tahu betapa Allah sesungguhnya selalu memilihkan yang terbaik bagiku (baca:kita), meskipun terkadang yang terbaik itu tak selalu yang terindah. Aku bahagia dengan apapun yang telah kujalani, termasuk pernah menyesal atas apa yang telah kulakukan. Hal ini sesungguhnya telah mengajarkanku untuk tak lagi melakukan hal-hal yang konyol kemudian dengan seenaknya berkata “aku menyesal”. Aku ingin membatasi “jumlah” penyesalan dalam hidupku. Aku telah banyak menyesal dahulu, dan kini aku tak boleh lagi menyesali perbuatanku.

Aku bahagia diciptakan menjadi aku yang sekarang. Aku bahagia lahir dan tumbuh di tengah kesederhanaan. Bagiku, kesederhanaan itu dekat dengan ketenangan dan ketenangan itu dekat dengan kebahagiaan. Aku bahagia Allah swt. telah mengijinkanku untuk merasakan kehidupan ini, merasakan betapa nikmatnya menjadi manusia itu. Aku bahagia Allah swt. memberikanku kesempatan untuk membahagiakan ayah-ibuku.

Dari ribuan, jutaan, bahkan tak terhingga kebahagiaan yang telah dan sedang kurasakan, kebahagiaan yang benar-benar kusyukuri adalah kebahagiaan dapat melihat ayah-ibuku bahagia dalam satu rumah yang dipenuhi oleh cinta kasih dan kasih sayang. Aku ingat, salah satu motivator terkenal pernah berkata (kira-kira seperti ini): Kado terindah untuk anak anda adalah mencintai ibunya. Dan aku begitu bersyukur, sebab ayahku telah memberikan kado terindah itu untuk aku dan adikku. Aku bersyukur Allah swt. mempertemukan mereka berdua, lalu mempersatukan keduanya, serta menakdirkan ayahku untuk ibuku dan ibuku untuk ayahku. Itu semua begitu indah bagiku, dan tak ada hal yang lebih indah dari itu.


Aku juga ingat, pernah kudengar ada seorang laki-laki yang berkata di salah satu acara televisi, beliau ditanyai “Mengapa anda menolak poligami?”. Dan dia pun menjawab, “saya adalah produk poligami, dan saya tidak mau anak-anak saya merasakan apa yang saya rasakan”. Kalimat itu begitu indah terdengar di telingaku, membuat aku sadar bahwa dia adalah salah satu ayah terbaik dari sekian banyak ayah-ayah terbaik di dunia ini. Aku membayangkan begitu terharunya anak-anaknya mendengar kalimat itu terucap dari mulut ayahandanya, serta disaksikan oleh jutaan pemirsa televisi. Sungguh, begitu bahagianya mengetahui ayah kita begitu peduli pada istri dan anak-anaknya.

Aku tak bisa bayangkan, apabila Allah swt. memisahkan keduanya atau menciptakan wanita lain atau pria lain di antara ayah-ibuku. Aku tak bisa bayangkan jika suatu hari nanti datang seseorang lalu merusak kebahagiaan kami. Aku tak bisa bayangkan jika aku harus hidup dengan dua orang ibu di sisiku, dan aku tak bisa bayangkan jadi apa aku ini jika ayahku meninggalkan ibuku demi orang lain. Sungguh, aku mungkin akan pergi dari jalan ini; pergi dari cita-citaku, pergi dari keluargaku, bahkan pergi dari Allah swt.


Aku bersyukur Allah swt. mempertemukan ayah-ibuku. Aku bersyukur Allah swt. mempersatukan keduanya, serta menakdirkan ayahku untuk ibuku dan ibuku untuk ayahku. Itu semua begitu indah bagiku, dan tak ada hal yang lebih indah dari itu. Tidak ada.


Maka jangan Kau ambil, Ya Allah, jangan Kau ambil
Hamba bersyukur atas segala nikmat-Mu
Jangan Kau cabut, Ya Allah, jangan
Jangan Kau cabut kebahagiaan ini dari kami.


Pemalang, 24 Januari 2012

Under The Rain (1)


Aku ingin bahagia dalam kesederhanaan yang ayah-ibuku ajarkan padaku. Aku ingin selamanya bahagia dalam senyum keceriaan anak-anak yang ingin menggapai cita-citanya. Aku ingin selamanya bahagia menjadi bagian dari kesuksesan orang lain. Aku tak ingin bahagia sementara ada anak yang tak bisa belajar dengan segala fasilitas yang memadai. Oleh karena itulah, aku ingin membagi apa yang bisa aku bagi kepada mereka, demi semangat, keceriaan, cita-cita, dan mimpi yang bersinar lewat mata mereka.

Semoga Allah menunjukkan jalan itu, meneranginya, melapangkannya, serta memudahkan langkahku untuk meraih hal itu.

Sebab aku hanya tak ingin apa yang terjadi pada teman-temanku terjadi kembali pada mereka. Aku tak ingin ada lebih banyak lagi anak yang putus sekolah. Aku tak ingin ada lebih banyak lagi anak yang tak bisa meraih cita-citanya. Sebab aku tahu seberapa penting arti cita-cita itu bagi anak-anak yang tumbuh di lingkungan yang sederhana.

Ya Allah, sekali lagi, tunjukkanlah jalan itu, terangilah, lapangkanlah, serta mudahkanlah kakiku ‘tuk meraihnya.

Pemalang, 21 Januari 2012

Kamis, 08 Desember 2011

Aku dan Sekolah (1)


Tahun demi tahun telah berlalu. Kini aku bergumul dengan buku-buku pelajaran, pengayaan, jam tambahan, dan ujian. Tak terasa waktu terus berjalan. Alhamdulillah, dua tahun itu benar-benar cepat. Dan kini tinggal beberapa langkah lagi aku dapat menyelesaikan langkah ini. Langkah yang cukup berat, mengingat separuh hatiku sebenarnya tak ikhlas untuk ini. Tapi Alhamdulillah, Allah selalu dekat dan Dia selalu memberikanku ketenangan di kala aku merasa terlalu sibuk memikirkan tugas-tugas dan keharusanku lainnya di sekolah.

Ketenangan. Satu hal itulah yang selalu aku butuhkan. Aku butuh ketenangan. Aku butuh waktu untuk diriku sendiri dan ketika hal itu datang aku membutuhkan Allah. Aku butuh dekat dengan-Nya, aku butuh bersandar sejenak pada-Nya untuk melepaskan segala beban yang ada di pikiranku. Aku butuh mengungkapkan segala kegelisahan hatiku, mengapa aku harus disini dan mengapa aku tak bisa keluar (sekolah).

Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam. Aku telah membuktikan keyakinan yang selama ini tertancap di dalam hatiku; keyakinan bahwa Allah itu dekat dengan kita—asalkan kita mau mendekat pada-Nya. Juga keyakinan bahwa Allah itu (benar-benar) Maha Mendengar. Allah mendengar setiap perasaan yang tersirat di dalam relungku, mendengar setiap keluhanku (yang sebenarnya tak pantas bagi seorang hamba), mendengar setiap kata dan janji yang kuikrarkan, serta mendengarkan doa-doaku. Aku bersyukur pernah merasakan keindahan dapat berdialog dengan Allah dalam doaku, dan aku bersyukur aku masih mengalaminya hingga kini.

Ketenangan seperti yang kudamba itu tak pernah dunia perlihatkan kepadaku. Dunia ini terlalu sibuk dengan segala urusan dan tuntutannya sehingga terkadang aku merasa aku harus keluar dan meninggalkan semua ini, lalu berlari menuju tempat yang sepi. Disanalah hujan akan turun lewat sudut-sudut mataku, dan disana pulalah Allah mendengarkanku. Tak perlulah kusampaikan perihal hujan itu, sebab bagiku air mata terlalu berharga untuk diperlihatkan. Tapi aku ingin semua tahu, ketika hujan usai matahari akan datang membawa sinar dan pelangi yang begitu indah. Sedetik setelah itu, kita akan merasa tenang. Ya, kita akan tenang.

Ketenangan itu agaknya mulai membukakan mata hatiku yang dulu terpejam. Allah telah menetapkan hal ini atasku. Allah telah menetapkan bahwa aku harus melalui jalan ini, aku harus sekolah. Kini deru dan gelisah hatiku yang selama ini selalu memberontak untuk pergi, mulai sirna. Mungkin dulu, tiga tahun yang lalu—saat aku duduk di bangku kelas tiga SMP—pikiranku dikacaukan oleh jiwa remajaku yang masih labil. Akan tetapi, sekarang aku mulai sadar bahwa terkadang kita tak bisa memaksakan diri kita untuk meraih sesuatu yang kita inginkan sebab kita tak punya kuasa atas hal itu. Allah jauh lebih mengerti kita bahkan dibanding diri kita sendiri. Ego, emosi, tuntutan serta tekanan dari luar terkadang mampu memperdaya diri kita hingga kita tak dapat menahan apa yang seharusnya tidak kita lakukan.

Hati dan keinginanku seyogyanya masih sama seperti yang dulu. Akan tetapi, aku harus mengakui bahwa keinginan itu tak sekuat dulu. Bukan karena aku melupakannya, melainkan karena kini aku semakin sadar bahwa kita tak selalu harus menang. Aku sepenuhnya sadar bahwa aku adalah harapan kedua orangtuaku, aku adalah harapan keluargaku, aku adalah harapan orang-orang di sampingku. Tapi aku masih memiliki harapan untuk diriku sendiri. Kini aku memiliki keinginan lain yang meneruskan (kusebut demikian untuk tak menyebut mengganti) keinginanku dulu yang tak bisa terwujud. Aku tak bisa berhenti, aku tak bisa keluar. Aku harus menyelesaikan ini dengan baik agar orangtuaku dapat tersenyum (bangga) karena aku. Aku bahkan merasa bahwa aku tak bisa sepenuhnya jauh dari sekolah dan jauh dari pendidikan. Dunia inilah yang lantas kupilih. Pendidikan. Aku rasa ada yang salah dari sekolah, tetapi aku tak bisa menyalahkan sekolah begitu saja. Sekolah hanyalah sebagian kecil hal yang ada di dalam sistem pendidikan di negeri ini. Untuk itulah, aku tak pernah menyalahkan sekolah (serta semua hal didalamnya) atas segala hal yang kurisaukan selama ini. Mulai dari materi pelajaran, jam pelajaran, kurikulum, ujian nasional sampai “tuntutan” nilai—sadar tak sadar, di sekolah siswa diharuskan untuk dapat mencapai nilai minimum yang telah ditetapkan di setiap pelajaran—yang terkadang kurang manusiawi dan tak berpihak pada siswa. Selama ini, di sekolah siswa ditempatkan sebagai objek, bukan sebagai subjek belajar. Oleh karena itu, sebenarnya aku kurang setuju jika di sekolah kewajiban siswa adalah belajar sebab pada praktiknya siswa diajar oleh guru. Selain itu, hal lain yang kurisaukan adalah semakin mahalnya biaya pendidikan di negeri ini serta tak terjaminnya pekerjaan yang layak bagi lulusan sekolah menengah. Padahal, para orangtua telah bersusah payah menyekolahkan anak-anak mereka demi bisa melihat kesuksesan anak-anak mereka. Apa daya, karena biaya yang tak sedikit, mereka hanya bisa menyekolahkan anak-anak mereka sampai sekolah menengah saja. Sayangnya, dengan ijazah SMP atau SMA, betapa sulitnya mencari pekerjaan yang baik. Kalau pada akhirnya pemerintah tak bisa menjamin pekerjaan bagi setiap lulusan sekolah, mengapa sekolah tidak mengenalkan dan mengajarkan tentang dunia kewirausahaan pada siswa? Kalaupun ada, mengapa masih minim? Bukankah dengan modal wirausaha, kelak mereka dapat menyediakan lapangan kerja baru sehingga dapat lebih mandiri?

Nah, menurutku hal-hal seperti itu bukanlah kesalahan satu pihak yaitu sekolah. Ada yang mengatur sekolah dan yang mengatur tersebut adalah sistem. Jadi, kalau ada yang salah dari sekolah, sistemlah yang bisa memperbaikinya.

Aku rasa aku harus ambil bagian dalam memperbaiki hal ini. Aku tak mau sekolah dibiarkan semakin rusak keadaannya. Kita harus mengubah atau (setidaknya) memperbaiki sistem yang keliru. Kita harus menjadikan sekolah sebagai instansi pendidikan yang terjangkau, yang menempatkan siswa sebagai subjek, yang membebaskan siswanya mengeksplorasi bakat serta minatnya masing-masing, yang tak melulu menuntut setiap siswa memperoleh nilai di atas kriteria minimum, serta sekolah yang memanusiakan manusia.

Aku tak mungkin berhenti, aku tak mungkin keluar (sekolah). Namun aku juga tak mungkin membiarkan hal-hal yang tak sejalan dengan pikiranku itu terus tumbuh di sekolah. Jika di negeri ini pendidikan adalah sekolah dan sekolah adalah pendidikan (meskipun menurutku hal ini keliru) maka sesungguhnya setiap warga negara berhak untuk sekolah sebab setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan. Akan tetapi, bagaimana bisa setiap warga negara bersekolah jika biaya sekolah masih tinggi?

Pemalang, 26 November 2011

Jumat, 14 Oktober 2011

Di Persimpangan Jalan


Kali ini aku berdiri di persimpangan jalan. Entahlah, aku tak tahu lagi harus melangkahkan kaki ini kemana lagi. Aku risau. Sepanjang hidup seringkali aku menemukan jalan yang berkelok seperti ini. Seringkali pula aku bisa memilih jalan itu dengan baik hingga perjalananku serasa makin ringan saja. Akan tetapi kali ini, entahlah, aku benar-benar risau. Hatiku bilang “ke kanan”, tetapi pikiranku bilang “kenapa tak coba ke kiri?”. Sementara itu orang-orang mulai ramai memperbicangkan aku, sambil berteriak padaku tentang kemana aku harus meneruskan langkah ini. Kata mereka “kenapa kau tak ikuti saja arah pikiranmu, ke kiri? Kau terlalu mencintai hatimu hingga kau selalu mendengarkannya. Kali ini, cobalah dengarkan pikiranmu. Mungkin kali ini, dia benar”. Tak cukup sampai di situ saja, mereka bahkan menyuruhku untuk memilih jalan sesuai kehendak mereka. Beberapa dari mereka berkata “kanan”, tapi tak sedikit juga yang berteriak “kiri”. Aku semakin risau. Hari semakin siang, matahari menyengat dengan teriknya. Bagaimanapun aku tak boleh terlalu lambat berjalan hanya karena persimpangan jalan ini. Lalu aku bertanya pada telingaku. Namun aku tersadar bahwa aku memiliki dua daun telinga, dan berada di sisi yang berseberangan. Yang kanan berkata “Ke kanan, kita harus ke kanan. Sepertinya ada hal baru yang akan kau temukan”. Sementara itu telinga kiriku berkata, “Tidak ke kiri saja. Sepertinya kau akan beruntung di sana”. Ah, sia-sia. Mereka hanya berpihak pada apa yang mereka dengar, meskipun hanya ada satu sisi yang mereka dengarkan. Aku menundukkan kepala. Kutanya pada kedua kakiku, tapi mereka tak memberikan jawaban pasti dan hanya berkata bahwa mereka akan patuh sepenuhnya pada perintahku, tuannya. Kutanya pada mataku, lalu mereka segera memandang ke arah dua sisi jalan ini. Di kiri, dunia begitu ramai, tapi di kanan dunia begitu nyaman. Namun setelah memandangi kedua arah jalan ini, mereka malah memejamkan diri mereka. Tak ada jawaban pasti. Akan tetapi ketika mataku terpejam itu, aku lantas teringat pada ucapan seseorang yang kukenal, seseorang yang amat kusayangi. Dia pernah berkata, “jauh di dalam hatimu ada terang cahaya yang dikirim Tuhan pada setiap diri kita. Ikuti apa katanya, maka kau kan temukan dirimu apa adanya. Ingat, hati itu tak pernah berdusta”.
***
Pemalang, 9 September 2011

Dua Tahun Lagi!



S
ayang sekali aku harus melewati malam ini di sini juga. Dan perjalanan hari ini akan berakhir di tempat yang sama pula. Dan esok aku harus sudah kembali ke dunia asalku, tempat dimana aku benar-benar telah lelah dan suntuk menghadapi semua ini, dan — sekali lagi — sayang sekali aku harus tinggal di sana untuk waktu yang relatif lama bagiku: dua tahun.

Memang bukan masalah jika Anda melewati waktu itu bersama teman-teman Anda, dalam suasana kegembiraan dan tanpa beban. Namun hal itu tak terjadi padaku. Dua tahun itu harus kujalani dengan setumpuk rasa sesal, secangkir kemarahan yang — sayang sekali harus kuminum setiap hari. Maka dengan semua itu, aku yakin, siapa pun Anda akan merasa berjalan selama dua puluh tahun meskipun orang-orang bilang itu hanya dua tahun.

Ya, itu pulalah alasanku untuk tetap tinggal. Seringkali aku sendirian, termenung, lalu berujar pada diriku sendiri; dua tahun itu cepat, dua tahun itu cepat. Begitu seterusnya sampai aku bosan mendengarkan ucapanku sendiri.

Karena menurutku, saat Anda mengulang perkataan Anda sebanyak mungkin, maka yang Anda katakan itu bisa menjadi doa yang mujarab untuk diri Anda sendiri. Dan aku berujar (memohon) pada Tuhanku, “Ya Tuhanku, jadikanlah waktu selama itu menjadi cepat bagiku, dan jika ia masih tetap lama, maka tetapkanlah aku dan hatiku di atas jalan dan rencana-Mu”.

Dan di saat malam mulai mengenakan kerudung hitamnya, dan dingin mulai menyapa di tengah kesepian lewat lembutnya angin malam, aku bermimpi. Mimpiku tetap saja sama. Suatu hari nanti aku dapat terbang, lalu hinggap dari pohon yang satu ke pohon lainnya, sampai aku menemukan pohon besar yang nyaman untukku, lalu akan kubuat sarang di antara dahan-dahannya. Di sanalah aku akan tinggal, menyanyi sepanjang hari, di pagi hari, siang, malam, sampai larut malam menutup mataku. Saat aku terbang, aku ringan di atas awan. Terbang membubung tinggi, lepas kendali, lalu melayang lagi, seolah aku dapat berenang di udara. Bebas!

Sayang sekali kenyataan harus lebih pahit ketimbang mimpi di awang-awang. Hingga aku berada di dalam situasi dimana mau tak mau aku harus meragukan kekuatan mimpi yang pernah diceritakan oleh orang-orang besar. Aku harus menerima hidupku apa adanya, karena begitulah cara manusia bersyukur pada Tuhannya — begitu kata orang-orang — padahal menurutku hal itu lebih mirip pasrah dan pesimistis ketimbang bersyukur kepada Tuhan. Sebab, yang aku tahu, ada dua hal yang kita terima dari Tuhan, yang pertama kenikmatan, yang lainnya musibah. Jika yang terima itu kenikmatan, baiklah untuk kita mensyukurinya dan menerima apa adanya. Namun jika kita justru menerima yang kedua, sulit rasanya jika kita hanya menerima apa adanya tanpa sedikit pun berusaha untuk mengubahnya. Sebab itulah cara Tuhan mengingatkan hamba-hamba-Nya untuk selalu mengingatnya. Dengan cara itulah Tuhan mengerti seberapa besar iman kita pada-Nya, dan dengan itu pulalah Tuhan menimbang dan memperhitungkan, meninggikan derajat umat-Nya atau merendahkan-(derajat)-nya.

Aku ingin setia pada Tuhan, ingin mencintai-Nya, ingin mengagungkan-Nya. Sebab aku melihat (kebesaran)-Nya. Aku telah mendengar bukti akan kebenaran-Nya, dan aku amat rindu kepada-Nya.

Aku ingin mencintai kehidupan dan seisinya. Sebab dengan cara itulah aku mencntai-Nya, dengan cara itulah aku membuka ruang hatiku lalu membiarkan kesedihan-kesedihan itu berlalu sebab aku telah memenuhi rinduku dengan bertemu dengan-Nya.

Tapi ini sulit, sulit untukku mencintai kehidupan jika aku tetap tinggal di sini. Sulit untukku menemukan kelapangan hatiku, bahagianya diriku, dan terpenuhinya mimpi-mimpiku; di sini. Aku sadar sepenuhnya bahwa ini bukanlah apa yang aku mau, bahwa ini bukanlah pilihanku. Aku tak bahagia di dalamnya. Aku terdesak, kesakitan, menangis, sendirian. Aku terjatuh, terjerembab, dan terikat. Aku tak merasakan apa yang orang-orang sebut dengan kenyamanan, sedangkan aku belum tahu apa arti kata itu sebab aku belum pernah merasakannya.

Sayang sekali, lagi-lagi bibirku yang mulai kaku ini harus berujar, dua tahun itu cepat, dua tahun itu cepat. Setelah dua tahun itu berlalu, ya, suatu hari nanti, Tuhan akan menimbang dan memperhitungkan, meninggikan (derajat)ku atau merendahkannya; dan mimpiku kelak ‘kan terwujud, aku akan bernyanyi siang-malam, terbang ringan di atas awan, membubung tinggi, jatuh, lalu terbang lagi, seolah-olah aku dapat berenang di udara. Dua tahun lagi, ya, dan itu cepat!

Pml, 31 Oktober 2010

Kamis, 14 April 2011

Lupa

Mungkin aku telah lupa, lupa pada mereka semua….
Aku tak tau kenapa hal ini bisa terjadi padaku. Bayangan mereka selalu nampak, dulu bercahaya. Namun kini, bayangan itu semakin mengendap, keruh dan beku. Pandanganku selalu diliputi oleh kabut ketika hendak mengingat hal itu kembali. Ya, dunia mungkin telah berubah untukku. Aku bukan lagi seorang anak yang berdiri sendirian di tengah keramaian. Aku bukan lagi menjadi seorang yang selalu kesepian, juga bukan lagi menjadi seorang yang selalu berlari ke sudut ruangan lalu menangis sendirian sementara yang lain bahagia. Kini, kebahagiaanku mulai merekah dan berkembang. Aku selalu bersama orang-orang yang selalu ada di sampingku. Kehidupan mulai berbalik secara perlahan. Akan tetapi, ketakutanku yang lainnya terjadi.
Dulu aku selalu memikirkan mereka, membayangkan apa yang sedang mereka lakukan sementara aku sedang sekolah. Dulu aku selalu merasa dunia itu sungguh jahat, sungguh tak adil. Dulu aku ingin keluar lalu berlari dan menemukan mereka. Aku ingin ada di samping mereka, ingin ikut merasakan apa yang mereka rasakan. Dan dulu, aku merasa begitu berdosa ketika mendapati apa yang saat itu kujalani tak sebanding dengan apa yang sedang mereka jalani. Aku selalu kuatir pada apa yang mereka lakukan, selepas menanggalkan atribut sekolah dan menjadi orang yang putus. Putus sekolah. Hari-hari selalu kulalui dengan bayangan wajah mereka yang begitu jelas di ingatanku. Satu tahun berlalu, semuanya semakin berubah.
Kemana bayangan yang selalu kuingat itu? Kemana larinya ingatan masa lalu itu, saat bersama mereka? Kenapa aku hampir kehilangan “mereka”?
Apakah ini yang disebut lupa? Ya Allah, sungguh aku tak mau hal ini terjadi. Sungguh aku tak mau menjadi seseorang yang hanya ingat saat menderita lalu kembali lupa saat aku mulai bahagia. Lalu apa, apa namanya perasaan ini? Apa namanya jika aku mulai kehilangan airmataku yang dulu selalu menjadi sumber kekuatanku? Masih mampukah aku berdiri tanpa kekuatan itu?
Ya Allah, jika dapat aku kembali, mungkin aku ‘kan memilih satu tahun yang lalu. Di saat aku masih bisa mendengar kabar dan mengetahui keadaan mereka, di saat bayangan itu masih nampak jelas, dan di saat aku begitu dekat pada-Mu, meskipun aku harus sendiri. Kini, masihkah aku menjadi hamba yang setia pada-Mu? Mengapa aku juga kehilangan kekuatan untuk selalu ingin tetap tinggal di dekat-Mu?
Ya Allah, pilihkanlah yang terbaik bagiku. Kumohon, kiranya Engkau juga berkenan memilihkan yang terbaik bagi teman-temanku, mereka. Lindungilah kami dalam dekapan agama-Mu, tetapkanlah hati kami pada apa yang Engkau ridhoi, serta jauhkanlah kami dari sifat tercela dan munkar. Sebab kami begitu takut, Ya Allah, kami begitu takut jika suatu saat nanti kami lupa pada-Mu, kami lupa pada orang lain, termasuk pada orang tua dan teman-teman kami; serta lupa pada diri kami sendiri. Jangan biarkan kami tersesat di jalan kehidupan fana ini, Ya Rabb. Jangan biarkan kami jauh dari-Mu. Ampunilah kami atas dosa dalam hati kami, dalam lisan kami, dalam mata kami, telinga kami, tangan kami, serta kaki kami. Hanya Engkau-lah yang tau apa yang ada di dalam hati kami. Amien,,,,

Pemalang, 6 April 2011

Jumat, 21 Januari 2011

Tak Tergantikan

Nama itu selalu menggaung di telingaku. Dan ketika seseorang memanggil namanya, aku tersadar. Bahwa kini dia telah tiada. Bahwa kini dia telah pergi. Bahkan sebelum aku melihatnya di atas panggung, langsung maupun tak langsung, saat ia masih ada.

Bukan aku tak peduli, bukan aku tak mau tahu. Tapi ketika itu memang aku belum ada di sini.

Yang datang menggantikan yang pergi. Yang pergi digantikan oleh yang datang. Namun sayang, aku yang datang tak bisa menggantikan ia yang pergi. Dia yang pergi tak bisa tuk ku gantikan.

Bukan aku tak mau, bukan aku keberatan. Justru aku ingin menjadi sepertinya.

Namun sayang, betapa pun dia tak mungkin dapat tergantikan, bahkan oleh orang yang sangat mirip dengannya- apalagi aku.

Pemalang, 15 November 2010.

Jumat, 19 November 2010

Hari Semakin Larut


Bunga-bunga yang mekar itu merebakkan wangi malam yang smkin pekat, hari semakin larut, doa-doa dipanjatkan di antara sunyi malam yang sedari tadi merayu jiwa-jiwa itu untuk istirahat merebahkan lelah sendirian ...
doa-doa suci itu bagai lembaran-lembaran metafora di antara dinginnya malam & potret-potret realitas kaum menyimpang yang mulai berkembang di tanah fana ini. Kehitaman malam ini seakan mengendap di hati dan jiwa kita sehingga terkadang kita lalai sebagai seorang hamba. Tidaklah kita malu pd Dzat yg selalu melihat, mendengar, dan mengetahui kemunafikan kita itu?
Maka teman, ini bukan saja untukmu tapi (terlebih) untukku, hidup adalah merentas senja sedari pagi menyingsing, hidup adalah perjalanan hari-hari yang kadang diliputi awan tebal namun kadang juga disinari mentari dan pelangi warna-warni.
Dan percayalah bahwa doa, harapan, asa, serta senyuman yang selalu merekah dalam hati & terbuktikan oleh pancaran jiwa ini, semuanya akan mengantarkan kita pada senja dan malam yang larut.
Pemalang, 240510.

Dimensi Kehidupan

Hidup adalah dimensi lain bagiku. Setiap hari banyak potret-potret berkeliaran, menciptakan suatu sinergi antara manusia dan alam. Matahari terbit dan tenggelam adalah satu diantaranya. Masih banyak potongan mozaik dan potret-potret itu di luar sama. Semuanya menyatu, dan ia berubah menjadi suatu dimensi lain: kehidupan.

Jika engkau merasa sendirian, terkukung dalam suatu ruang tanpa dimensi, tanpa cahaya, warna, dan suara, maka keluarlah! Di luar sama dunia menantimu. Keluar dan rasakanlah betapa Tuhan menciptakan alam raya ini dengan penuh kejutan, kedahsyatan, dan kesempurnaan. Maka apalah hal yang lebih baik selain keluar, menyaksikan kekuasaan-Nya, dan meneliti segala kemungkinan yang dapat terjadi pada hal yang terkecil sampai hal yg terbesar.
Maka tiadalah hal yang terpenting bagi kita, manusia, selain hanya satu: menjaga keagungan Tuhan itu sebagai tanda Dia benar-benar ada dan dekat dengan kita.

(Pml, 14809)