Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 November 2016

Warna Langit

Langitku biru. Langitku cerah. Manusia mengaguminya.
Langit biru yang cerah, ah, manusia mana yang tak menyukainya. Tukang es keliling, tukang bakso, pedagang kaki lima, anak sekolahan, pengantar surat, loper koran, penyapu jalan, tukang parkir… semua menyayangiku. Pengusaha kerupuk, petani garam, dan ibu-ibu yang punya anak bayi juga tak luput menjadi pengagumku. Hidup nyaman sekali dari atas sini. Terlebih jika matahari tak terlalu niat menyalakan sinarnya ke muka bumi. Hari sempurna ialah saat matahari bersantai di langitku, burung-burung terbang di antara awanku, pohon dan bunga tumbuh subur di bawahku, orang-orang tertawa dan dapat uang banyak.
Di sebelah langitku, ada langitmu.

Sabtu, 17 Mei 2014

Rimba, Yang Pertama



Aku menamainya Rimba. Dia menyebutku jingga. Tak tahu apa artinya. Hanya saja, dia pernah bilang, kalau senja itu indah. Bukankah senja itu jingga? Jadi?
Aku tak tahu harus mengartikannya ke dalam bahasa apa, ke dalam ungkapan apa. Sebab, jingga itu tanda. Tanda bahwa matahari segera pergi. Tanda bahwa cahaya akan segera berganti, dan malam akan segera lahir. Aku tahu dia tak suka malam.
Aku menamainya Rimba. Sebab, dia suka bermain-main di pantai entah mengerjakan apa. Sebab, dia sering berburu dan baru pulang saat hari sudah gelap. Dia bisa dan pada dasarnya suka akan kesendirian. Tenang, katanya. Maka bersamanya aku berubah menjadi orang yang banyak mulut. Bukan lantaran aku yang begitu ramai, tapi karena dia yang demikian sepi.

Minggu, 08 Desember 2013

Mengikat Rasa, Menyibak Makna



BIAR aku ceritakan saat kali pertama aku melihatmu. Dua tahun yang lalu. Waktu itu, aku melihat selembar kertas kosong yang bersih. Rasanya seperti melihat langit yang cerah tanpa sedikit pun awan menggantung di atas sana. Itulah kamu, yang kulihat waktu itu. Duduk diam dengan secangkir kopi yang mendingin. Masih penuh, bahkan tak tersentuh olehmu. Aku tak tahu kenapa aroma kopi hangat begitu memabukkan dan memuaskan hingga meminumnya hingga habis adalah tabu bagimu. Dan aku tak tahu, kenapa kau mematung diri di tengah keramaian pesta malam itu.

Minggu, 15 September 2013

Nasib Bunga



kenapa kau meragu, wahai bunga
di kepak sayap kumbang terselip berjuta asa
sedang janjinya selalu ia ujarkan
tinggal kau turuti, tinggal kau ikuti

kenapa masih juga kau ragu, wahai bunga
di sekelilingmu ilalang tak henti bernyanyi
membujukmu untuk ikut kekasih
hanya tinggal satu kata, “ya” kau ucapkan

bunga, waktu pasti segera berlalu
manis madumu ‘kan menggetir
tegak mahkotamu ‘kan melayu
dan wangimu ‘kan meluruh

lalu tunggu apa lagi
Ketika sempurna sudah lama jadi milikmu?

Minggu, 27 Januari 2013

10 Minutes

Ku pandangi dua lembar kertas di hadapanku. Lembar soal dan lembar jawab. Hufft, aku jenuh dengan suasana di sini. Keheningan berbaur dengan sakit kepala yang (anehnya) diderita oleh semua peserta di ruangan ini yang semakin memperburuk “kejiwaan” kami. Dan yang lebih aneh lagi, sakit kepala itu selalu datang saat tiba waktu ulangan. 90 Menit, waktu  itu selalu terasa begitu lama saat kami lalui itu ketika proses KBM biasa berlangsung. Tapi ketika duduk di atas kursi ini, sembilan puluh menit itu terasa begitu cepat. Dan aku baru menyadari akan satu keanehan lagi yang ada padaku: lembar jawabku masih kosong, belum ada satu pun soal yang kuselesaikan. Dan parahnya lagi, waktu tersisa KURANG DARI 10 MENIT LAGI. My God!
Maka segera saja aku menaikkan penaku, lalu mulai memainkannya di atas lembar jawabku. Aku meletakkan lembar jawabku itu persis di atas lembar soal, dan itu artinya aku memilih jawaban dengan membulatinya tanpa meneliti dulu soalnya dan memikirkan apakah jawabanku itu sudah tepat atau belum. Bagaimana pun, waktuku kurang dari sepuluh menit lagi dan aku harus sudah menyelesaikannya sebelum bel peringatan waktu kurang dari lima menit lagi.
Kuperiksa jam dinding yang menggantung di depan kelas, dan aku menghitung bahwa aku cuma butuh waktu kurang dari tiga menit untuk “memilih semua jawaban yang kuanggap benar”. Ya, aku rasa sudah benar apa yang baru saja kulakukan, sebab apa yang kulakukan itu sudah sama dengan perintah soal yang jelas-jela tertulis di lembar soal: “Pilihlah jawaban yang menurut Anda paling tepat!” dan bukan “jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan benar!”. Mungkin malaikat di kanan-kiriku juga sedang menertawakanku.
Ya Tuhan, aku bosan. Bosan tingkat tinggi. Kenapa aku harus menyelesaikan ini semua terlebih dahulu sebelum aku dapat lulus dan “merdeka”?
 Mengapa harus ada kertas ulangan, dan… ehm… aku jadi penasaran, siapa sebenarnya yang mempunyai “ide gila” ini?
Hmm.… Akhirnya aku kembali mengubah perkataanku, ternyata sembilan puluh menit itu lama sekali! Lalu, apa yang selama ini aku lakukan? Tidur dan bermimpi? Ah, entahlah.
Pada akhirnya sembilan puluh menit itu hilang dan tak meninggalkan kesan apapun. Yang tertinggal hanyalah rasa kantuk tingkat tinggi dan harap-harap cemas akan hasil ulanganku nanti.


Minggu, 29 Juli 2012

Mawar Kepada Hujan yang Menjadikannya Mekar


Aku tak pernah menceritakan ini pada siapa pun, yaitu tentang apa yang dikatakan mawar kepada hujan yang menjadikannya mekar. Kala langit senja mulai menenggelamkan matahari yang (sayang sekali) begitu redup, dan hujan mulai turun dengan beriringan lewat awan yang kelabu.
Nun di bawah sana, di antara bunga-bunga berwarna-warni yang tumbuh di sebuah taman yang indah, sekuntum bunga memekarkan pandangannya ke atas, hendak mendengar suara langit yang darinya muncul berita akan datangnya hujan. Ia lalu melempar pandangannya ke bawah, lalu ke arah sekelilingnya. Adalah bunga mawar putih yang terkenal akan kecantikan dan keelokan rupanya. Ketika hujan mulai turun dan membasahi mahkotanya, ia berteriak.
“Aku benci padamu, Hujan!”.
Hujan yang kebingungan lantas berkata, “Mengapa kau berkata seperti itu, Mawar? Apa salahku sehingga kau berkata demikian? Bukankah kau amat menyukaiku karena aku memberikanmu air (kehidupan) ?”.