Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Agustus 2017

Catatan Kontributor Hipwee yang Lama Tak Berkontribusi (Bagian 1)

Siang ini, Facebook mengingatkan saya bahwa setahun yang lalu artikel saya kali pertama dimuat di Hipwee Community. Ketika itu waktu tunggu moderasi hingga terbit tidak begitu lama, hanya sekitar tiga hari (kalau tidak salah). Dan artikel pertama saya itu berjudul 7 Nasehat Cinta dari Dee Lestari,Cocok Buatmu yang Masih Dilema.

Membuat artikel berbentuk listicle yang sekarang arak di media online itu bagi saya gampang-gampang susah. Gampang nulisnya, susah nunggunya. Hehe. Artikel terakhir saya di Hipwee terbit setelah dua minggu menunggu. Katanya sih Hipwee lagi pindahan. Semoga sekarang masa tunggunya tidak begitu lama ya.

Ada beberapa hal yang mau saya share di sini, soal pengalaman saya menulis di Hipwee. Perlu diketahui, Hipwee adalah salah satu portal online bagi anak muda yang berisi tips, kuis, hingga narasi dan seringkali kadang curhat. Hehe.

Pembaca Hipwee sebagian besar pelajar dan mahasiswa. Saya sendiri tahu Hipwee sejak awal kuliah. Hipwee pun mendadak jadi bacaan ringan yang tak boleh terlewat. Artikel-artikel di Hipwee “anak muda banget”, dibawakan dengan gaya tulisan yang ringan dan bikin kecanduan. Kayaknya nggak pernah saya nengokin Hipwee cuma buat baca 1 artikel. Seringkali 3 artikel atau lebih habis saya baca setiap kali ngeklik Hipwee.

Yang waktu itu menarik bagi saya adalah banyaknya jumlah kontributor Hipwee dan angkanya terus meningkat. Dalam waktu singkat, Hipwee jadi ramai dan bukan lagi lapak milik sekumpulan orang. Hipwee sudah jadi milik anak muda, baik yang suka nulis ataupun cuma mampir baca.

To be honest, saya sudah lebih dulu kepincut sama Nyunyu. Saya masih ingat, dulu Nyunyu akan mengupload artikel baru tiap pukul 8 malam. Nyunyu ini asyik banget buat dibaca. Ringan, lucu, pokoknya bikin ketawa-ketawa sendirilah kalau baca Nyunyu. Apalagi nama-nama beken di belakangnya: Raditya Dika, Bena Kribo, Arief Muhammad, Nilam Suri, dll. Pas banget waktu itu lagi avid mainan twitter dan bisa dibilang mereka itu artis-artisnya Twitter.

Kenapa saya pindah hati dari Nyunyu ke Hipwee?

Jawabannya adalah karena Hipwee membuka pintu selebar-lebarnya bagi para kontributor yang bisa siapa saja. Lho, memangnya Nyunyu nggak? Nggak seramai itu. Jujur, saya nggak tahu orang-orang dalam-nya Hipwee itu siapa aja, karena saya nyaris nggak bisa bedain mana redaksi mana kontributor. Di Nyunyu, dinding itu jelas terlihat. Tiap kali klik, yang muncul lagi-lagi artikelnya si @poconggg atau Bena. Kadang punya Nilam Suri. Sekitar beberapa bulan hingga setahun setelah itu barulah nama lain ikut naik, contohnya Adhie Fahmi. Yang lumayan ramai adalah kolom komentarnya, sebab beberapa member sering komen dan nggak jarang ditanggapi juga sama penulis artikel. Kolom komentar ini nih yang juga nggak kalah gokil. Apalagi kalau udah bahas K-wave atau Raisa. Atau jomblo.

Terus di Hipwee nulis apa aja, Rin?

Artikel di Hipwee dibagi menjadi beberapa model. Ada narasi, listicle, quiz, dan opini. Saya sendiri sudah menulis 5 artikel yang terdiri atas 1 narasi dan 4 listicle. Saya suka nulis listicle karena saya pengin share beberapa hal dalam satu topik yang akan lebih enak dibaca dalam format listicle. Kali pertama login dan nulis, saya masih bingung harus pakai format tulisan yang manaAkhirnya saya nulis dalam format narasi. Beberapa hari kemudian, ada e-mail dari pihak Hipwee yang mengabarkan kalau artikel saya lebih baik ditulis dalam format listicle. Oke, ganti format.

Menulis di Hipwee cukup mudah dan cepat sebab kita sudah dihadapkan dengan form yang tinggal kita isi sesuai instruksi. Buat saya, mengisi kolom-kolom inilah yang PR banget, sebab kita harus sudah menyiapkan artikel beserta gambar dan sumber gambar-gambar yang akan kita gunakan.

Yang menarik adalah judul artikel. Tahu ‘kan model-model judul artikel online seperti apa. Tak jarang, judul yang kita ajukan akan direvisi; ditambah atau dikurangi. Contoh judul artikel saya yang ditambah adalah artikel 7 Nasehat Cinta dari Dee Lestari, Cocok Buatmuyang Masih Dilema. Itu bukan judul yang saya ajukan sebenarnya. Judul aslinya adalah 7 Nasehat Cinta dari Dee Lestari. Tanpa koma atau tambahan beberapa kata di belakangnya.

Lain lagi dengan artikel berjudul 5 Pidato Pemimpin Dunia yang Inspiratif, Mengharukan, Hingga Mengubah Dunia! Judul aslinya adalah 5 Pidato Pemimpin Dunia yang Harus Kamu Dengarkan—Inspiratif, Mengharukan, Hingga Mengubah Dunia! Kali ini, judul dipotong serta beberapa kata dihilangkan.

Artikel pertama saya terbilang cepat menarik banyak pembaca. Hari pertama sudah mendapat 123 share, dan di minggu pertama ada 1738 share. Ya, lumayanlah. Artikel percintaan seperti ini memang salah satu yang paling sering dicari oleh pembaca Hipwee. Ya, namanya juga anak muda...
Setelah artikel pertama dimuat, saya mencoba bereksplorasi ke topik-topik lainnya. Artikel kedua saya mengangkat tema Harry Potter (soalnya saya Potterhead, hehe) dan saya mengangkat heroine dalam film-film Harry Potter. Sebelumnya saya sempat search apakah di Hipwee sudah ada artikel dengan topik serupa atau belum. Ternyata artikel bertemakan Harry Potter belum begitu banyak. Akhirnya saya upload artikel kedua saya itu. Eh, bukan ding. Artikel pertama.
Ya, artikel berjudul Hai Kamu Cewek-Cewek, Belajar Jadi Cewek Tangguh Lewat Karakter Wanita di FilmHarryPotter Yuk! adalah artikel pertama yang saya tulis di Hipwee, namun tak jadi dimuat karena format yang keliru (yang sudah saya ceritakan di atas). Saya simpan dulu, baru saya keluarkan ketika artikel lainnya benar-benar dimuat dan mendapat respon yang cukup baik.

Oh ya, selain judul, yang seringkali (lagi-lagi menurut pengalaman saya) mendapat revisi dari pihak Hipwee adalah gambar utama. Dari lima artikel saya saja, tiga atau empat diantaranya mengalami pergantian gambar utama. Saya tidak tahu pasti kriteria gambar utama yang baik menurut Hipwee itu seperti apa, tapi saya menilai relevansi antara artikel dan gambar menjadi salah satu pertimbangan. Oh ya, jika gambar utama diganti, artinya digantikan oleh gambar lain dari pihak Hipwee. Tak ada anjuran dari Hipwee untuk mengganti (tidak seperti kekeliruan dalam format seperti pengalaman saya), dan tak ada pemberitahuan sebelumnya.

Beberapa bulan yang lalu, Hipwee pindah kantor. Entah dari mana ke mana. Yang jelas, waktu itu banyak kontributor yang bertanya kenapa artikelnya belum dimuat. Ada yang sudah 1 minggu, 2 minggu, bahkan 1 bulan menunggu. Saya termasuk kontributor yang bertanya langsung pada salah satu admin Hipwee. Syukur, beberapa hari berikutnya artikel sudah dimuat.

Oh ya, Hipwee sekarang punya editor baru (well, sekarang nggak baru-baru amat, sih). Kalau awal-awal saya nulis di Hipwee artikel akan diedit tampilan dan mechanics-nya saja, kini konten artikel juga diedit. Artikel saya yang telah melewati proses editing ini adalah Untuk Adik Kecilku, Pinjami Sebelah Sayapmu Agar Kita Bisa Terbang Bersama.

Tak hanya menulis artikel yang berhubungan dengan hubungan atau percintaan remaja, saya juga menulis artikel dengan tema yang sedikit lebih berat, yaitu sejarah berjudul 5 Pidato Pemimpin Dunia yang Inspiratif, Mengharukan, Hingga Mengubah Dunia!

Ekplorasi saya melebar ke topik yang lebih pribadi, yakni curhat. Karena berupa curahan hati, saya menuliskannya dalam sebuah narasi. Tak terlalu panjang, cukup untuk melegakan beban pikiran saja.

Dari kelima artikel yang saya tulis di Hipwee, sedikit-banyak saya tahu selera umum pembaca Hipwee. Bagian kedua akan mengupas lebih jauh artikel seperti apa yang paling banyak disukai pembaca. Stay tuned!

Minggu, 27 Januari 2013

Menciptakan Suasana KBM yang Menyenangkan dan Kondusif


Siswa seringkali dipusingkan oleh materi pelajaran yang sulit, rumit, membingungkan, serta membosankan. Suasana kegiatan belajar mengajar atau KBM yang tak kondusif ditambah dengan tenaga pengajar atau guru yang tak punya cukup cara dalam hal metode penyampaian bahan ajar menjadi salah satu sebabnya. Banyak pelajar menilai, metode penyampaian yang diterapkan oleh beberapa orang guru kurang pas dan membosankan sehingga mereka menjadi kurang tertarik serta memahami apa yang disampaikan oleh guru. Kelihatannya hal ini sepele, mengingat tidak mungkin memenuhi apa yang diinginkan oleh siswa yang sedemikian banyak dalam satu kelas dengan yang dikehendaki oleh guru. Namun, hal ini menjadi sangat penting manakala siswa menjadi tak punya semangat belajar lalu gagal dalam ujian. Perlu adanya diskusi panjang agar menemukan jalan tengah bagi persoalan ini, agar tercipta suasana kelas yang menyenangkan bagi guru dan siswa serta kondusif dalam penyampaian materi pelajaran.
Suasana belajar yang menyenangkan akan membuat siswa terpacu untuk belajar, mendorong timbulnya rasa ingin tahu yang besar dalam diri siswa, termasuk mengupayakan hubungan yang aktif antara siswa dengan guru sehingga hasil yang akan didapat bisa maksimal. Rasa ingin tahu yang besar mendorong siswa untuk terus menggali hal-hal yang ia kehendaki itu sehingga wawasannya pun berkembang. Tak hanya itu, suasana belajar yang menyenangkan penting untuk menjaga stabilnya perkembangan emosional mereka termasuk membantu mengembangkan relationship dan melatih kerjasama antar siswa. Sebab, kegiatan belajar mengajar tak hanya soal siswa dan gurunya, tetapi juga siswa dengan temannya.
Sebaliknya, suasana belajar yang membosankan akan mempengaruhi perkembangan mental siswa, menjadi keras dan pemarah karena apa yang diinginkannya di sekolah tidak bisa diwujudkan oleh gurunya, padahal hal itu baik. Mereka juga menjadi sulit berkonsentrasi pada pelajaran dan gagal membina hubungan yang baik dengan teman satu kelasnya. Selain itu, akibat kurangnya pemahaman siswa terhadap apa yang dipelajarinya bisa membuat ia gagal dalam ujian. Tentu, hal ini tak mau dialami oleh semua pihak, bukan? Jadi, mari kita ciptakan suasana belajar mengajar yang menyenangkan serta kondusif. Caranya?

Kamis, 14 April 2011

Menjadi Seorang Pahlawan

That a hero lies in you. Kata-kata itu begitu terpatri dalam diriku, seakan begitu tenggelam di kedalaman hatiku. Setiap manusia adalah hero, pahlawan. Setiap manusia dilahirkan sebagai seorang pahlawan, meskipun itu pahlawan bagi dirinya sendiri. Ya, dan dalam hidup, tantangan berkembang seiring dengan dewasanya seseorang, menguji seberapa besar jiwa pahlawan di dalam dirinya, sambil melatih kepekaan pada hidup dan sekelilingnya. Orang-orang yang terbiasa menghadapi tantangan dalam hidupnya akan menjadi seseorang yang lebih kuat dan tegar dibanding orang yang hidupnya biasa-biasa saja. Orang-orang yang terbiasa menemukan persoalan dan ujian dalam hidupnya akan menjadi seseorang yang survive, yang mampu bertahan, sebab ia telah terbiasa melatih keberanian serta siap menghadapi hal apapun di dunia ini, meskipun hal itu adalah yang terburuk sekali pun. Maka berbahagialah orang yang dalam hidupnya selalu penuh dengan masalah dan tantangan, sebab di balik itu semua Tuhan telah menyediakan tempat yang lapang di sisi-Nya kelak. Maka berbahagialah mereka yang dengan tangguh telah menjawab tantangan Tuhan, namun dengan rendah diri menyerah di hadapan-Nya. Berbahagialah bagi mereka yang masih menggaungkan nama Tuhan di kala ia telah melewati tantangan yang begitu berat dan besar. Berbahagialah, karena mereka itulah yang mampu menunjukkan bahwa di dalam dirinya masih ada jiwa seorang pahlawan. Pahlawan bagi dirinya, pahlawan bagi orang lain.
Kita pasti pernah jatuh, ya, setiap orang pasti pernah jatuh. Namun bukan berarti kita lemah. Seseorang yang pernah jatuh, bukan berarti ia kehilangan jiwa pahlawannya. Jiwa sebagai pahlawan tetap ada pada dirinya, dan akan selalu ada, tergantung ia mau menggunakannya atau tidak. Kebanyakan dari kita tak sadar, bahwa setiap pahlawan pasti pernah merasa lemah dan tak punya daya. Kebanyakan dari kita juga lupa, bahwa di saat kita jatuh bahkan tenggelam, Tuhan masih punya kekuatan untuk menolong kita, bahkan menaikkan (derajat) kita. Bukankah Tuhan tak pernah menguji hamba-Nya lebih berat dari kemampuan hamba itu sendiri?
Masih ada Tuhan. Ia yang akan menolong kita, mengeluarkan kita dari cobaan-cobaan itu, bahkan juga akan menaikkan derajat kita. Asalkan kita mau mengingat-Nya, setia mendekat pada-Nya, dan bersandar pada-Nya dalam bahagia maupun masalah. Ingatlah Ia seolah kita akan mati besok, tetapi lanjutkan hidup seolah kita akan hidup selamanya. Mendekatlah pada-Nya seolah kita berada dalam masa paling sulit dalam hidup kita, ingatlah saat-saat kita jatuh, saat kita butuh sandaran untuk menangis. Tuhan akan memberikannya.
Ketahuilah, kita terlalu sering menengok ke belakang atau ke atas; kita terlalu sering berjalan di muka bumi ini dengan kesombongan, dengan dada yang dibusungkan dan berjinjit, seakan tak mau tahu pada apa yang terjadi di sekitar kita. Yang terpenting adalah keberhasilan dan kebahagiaan diri kita sendiri. Cobalah, Teman, sekali saja, palingkan pandanganmu ke depan, sebagai tanda akan optimisme dan kepercayaan diri yang kuat yang ada pada dirimu. Palingkan pandanganmu ke bawah, lihatlah, masih banyak yang butuh bantuanmu. Masih banyak yang lebih bersedih daripada dirimu. Lalu tengoklah mereka, yang ada di sampingmu; mereka yang setia menemanimu dalam setiap do’a yang dipanjatkan, mereka yang setia memanggil namamu saat kau butuh semangat, mereka yang setia di sampingmu saat kau butuh petuah. Mereka adalah jiwa seorang pahlawan, yang mau berkorban bagi dirimu. Mereka tak hanya pahlawan bagi diri mereka sendiri, tetapi juga bagi dirimu. Meluangkan waktu hanya untuk mendengarkan ceritamu atau melihat keberhasilanmu, bukankah itu suatu hadiah yang berarti dan penuh pengorbanan? Mulai sekarang, jadikan lurus ke atas dan lurus ke depan sebagai semangat hidup kalian yang setia kalian kobarkan saat kalian merasa jatuh ke jurang yang paling dalam.
Yakinlah, bahwa kalian adalah pahlawan bagi diri kalian sendiri. Dan hal itu takkan lebih berarti kecuali kalian melengkapinya dengan berusaha menjadi pahlawan bagi orang lain. Sebab, inti dari menjadi seorang pahlawan adalah rela berkorban dan selalu berjuang untuk kepentingan orang lain. Berbahagialah bagi mereka yang dapat melengkapi kebahagiaan menjadi seorang pahlawan bagi diri sendiri dengan menjadi pahlawan bagi orang lain. And you finally see the truth, that a hero lies in you….

Pemalang, 5 April 2011