Gila. Aku berada di titik paling jenuh sepanjang
delapan belas tahun berdiri di atas tanah baka ini. Parah, sungguh parah. Aku
tak lagi merasakan nikmatnya belajar, bergumul dengan tugas-tugas kuliah,
buku-buku pelajaran, handouts, dan segala macam tes serta ujian. Aku tak lagi
merasakan indahnya kata “semangat”, menguasai mata kuliah, mengejar passion.
Akh, kata yang terakhir itu, agaknya perlu pula aku ganti. Bukan lagi passion
yang saat ini sedang kususuri, yang saat ini sedang kukejar. Bukankah passion adalah sesuatu yang padanya
kita tak pernah lelah mengejar dan akan melakukan apapun untuk bisa meraihnya?
Sedangkan untuk sekedar membuka buku saja sudah membuatku mual. Kata “malas”
semakin menjalari tubuhku, mengikatnya erat-erat, membunuh setiap derajat rasa
“ingin” yang sisa-sisanya masih kupunyai.
Entahlah, tiba-tiba saja grammar, writing, listening,
reading, speaking, dan segala macam mata kuliah lain tak punya daya tarik lagi
barang secuil pun. Bukan grammar, writing, atau mata kuliah lain yang membuatku
sibuk; bukan mereka yang memampukan mataku untuk terbuka hingga larut malam
dengan semangat penuh yang mendidih di sekujur tubuh.
“Malas” mungkin menjadi akar penyebab dari masalah ini,
tetapi aku sadar bahwa tak mungkin selamanya menyalahkannya. Siapa yang
membiarkan rasa itu menghinggapi diri?