Selasa, 26 Februari 2013

Di Penghujung Februari


Assalamu’alaikum.
Februari mau abis ya.... nggak nyangka.....
Saya nggak tahu harus ngomong apa, harus nulis apa bulan ini. Tapi karena udah kadung kommit sebulan harus “isi rumah” minimal 1 tulisan, ya udah....
Kadang emang gitu sih, kalo mau apa-apa harus punya target yang jelas, supaya jelas juga gimana steps-nya, gimana caranya, dan gimana ngukur kita udah bisa dikatakan sukses atau belum. Dan biasanya, hal yang dilakukan dengan target itu nuntut kita untuk kerja lebih keras lagi, mikir lebih sering lagi, dan itu bagus. Coba bayangin, perusahaan yang nggak punya target, cepat atau lambat pasti bangkrut. Kenapa? Karena nggak ada ukuran pasti mereka sukses atau enggak, dan nggak ada bilangan yang bisa mewakili kesuksesan atau kegagalan mereka. Semuanya akan berjalan seperti air yang mengalir (:dari atas kebawah).
Emang sih, kadang susah juga untuk bisa menuhin target. Terutama yang berkaitan dengan pekerjaan. Deadline yang terjemahan saklek-nya adalah garis mati, bener-bener bisa bikin kita mati. Terlebih tugas yang numpuk, yang bisa bikin kita sakit jiwa. Hmm, kedengerannya nggak enak banget ya?

Minggu, 27 Januari 2013

10 Minutes

Ku pandangi dua lembar kertas di hadapanku. Lembar soal dan lembar jawab. Hufft, aku jenuh dengan suasana di sini. Keheningan berbaur dengan sakit kepala yang (anehnya) diderita oleh semua peserta di ruangan ini yang semakin memperburuk “kejiwaan” kami. Dan yang lebih aneh lagi, sakit kepala itu selalu datang saat tiba waktu ulangan. 90 Menit, waktu  itu selalu terasa begitu lama saat kami lalui itu ketika proses KBM biasa berlangsung. Tapi ketika duduk di atas kursi ini, sembilan puluh menit itu terasa begitu cepat. Dan aku baru menyadari akan satu keanehan lagi yang ada padaku: lembar jawabku masih kosong, belum ada satu pun soal yang kuselesaikan. Dan parahnya lagi, waktu tersisa KURANG DARI 10 MENIT LAGI. My God!
Maka segera saja aku menaikkan penaku, lalu mulai memainkannya di atas lembar jawabku. Aku meletakkan lembar jawabku itu persis di atas lembar soal, dan itu artinya aku memilih jawaban dengan membulatinya tanpa meneliti dulu soalnya dan memikirkan apakah jawabanku itu sudah tepat atau belum. Bagaimana pun, waktuku kurang dari sepuluh menit lagi dan aku harus sudah menyelesaikannya sebelum bel peringatan waktu kurang dari lima menit lagi.
Kuperiksa jam dinding yang menggantung di depan kelas, dan aku menghitung bahwa aku cuma butuh waktu kurang dari tiga menit untuk “memilih semua jawaban yang kuanggap benar”. Ya, aku rasa sudah benar apa yang baru saja kulakukan, sebab apa yang kulakukan itu sudah sama dengan perintah soal yang jelas-jela tertulis di lembar soal: “Pilihlah jawaban yang menurut Anda paling tepat!” dan bukan “jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan benar!”. Mungkin malaikat di kanan-kiriku juga sedang menertawakanku.
Ya Tuhan, aku bosan. Bosan tingkat tinggi. Kenapa aku harus menyelesaikan ini semua terlebih dahulu sebelum aku dapat lulus dan “merdeka”?
 Mengapa harus ada kertas ulangan, dan… ehm… aku jadi penasaran, siapa sebenarnya yang mempunyai “ide gila” ini?
Hmm.… Akhirnya aku kembali mengubah perkataanku, ternyata sembilan puluh menit itu lama sekali! Lalu, apa yang selama ini aku lakukan? Tidur dan bermimpi? Ah, entahlah.
Pada akhirnya sembilan puluh menit itu hilang dan tak meninggalkan kesan apapun. Yang tertinggal hanyalah rasa kantuk tingkat tinggi dan harap-harap cemas akan hasil ulanganku nanti.


-tanpa judul- :)


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Hari ini, akhirnya saya punya keberanian untuk meng-share tulisan ini. Di dalamnya ada kata-kata yang saya ganti, yaitu "dua puluh tahun" yang tadinya "belasan tahun". I'm looking forward for your advice, guys. Enjoy!

“Kita Telah Sampai”

Mega mengiringi perjalanan hari demi hari yang serasa begitu cepat,
Tak terasa, dua puluh tahun sudah kita berjalan
Bersama
Menapaki satu per satu langkah yang terkadang berat
Bersama jua
Apapun ‘kan kita lalui
Semata karena cinta yang semakin meradang di hati
Menyeruak di alam asing yang dingin, sepi
Seindah janji sehidup-semati kepada Ilahi

Beribu padang telah kita lewati
Beribu gelombang jua telah kita hadapi
namun kini yang ada di depan mata ialah,
kebahagiaan

Dan perlahan kita ‘kan temui
Akhir dari perjalanan panjang ini
Kau dekap aku lalu kau kecup keningku
Lirih, katamu
“kita telah sampai”

Dan kini biarkanlah
Anak-anak kita
‘kan berlari menyusul ayah-ibunya

Sementara kita baru tersadar
Selama ini, kita
Hidup penuh bahagia


> teruntuk dua pahlawan yang ‘kan hidup selamanya di hatiku
“Cinta kalian-lah yang telah membuat semua ini, nyata….”